Kamis, 30 September 2010

Ini Adik Dua

Ini Adik Dua
Fadhilla Berlian Nisa, ponakanku kedua, buah cinta kakakku Indang Nuryanti dan suaminya Ikhwan, umurnya baru 19 bulan atau belum genap 2 tahun kala adiknya, Muthia Salsabila lahir. Muthia hadir ke dunia pada Februari 2001. Sebagai balita, wajar jika Dhilla, sapaan akrab Fadhilla, butuh perhatian khusus dari kedua orang tuanya. Sayangnya, perhatian itu sedikit tereduksi sejak kehamilan ibunya hingga kehadiran adiknya.
Kehamilan Muthia memang tidak direncanakan. Kakakku juga sempat shok saat tahu ia mengandung. Padahal, saat itu umur Dhilla baru 10 bulan. “Ya kaget saja, ga menyangka kalau hamil,” kata dia. Pasalnya, jarak antara Dhilla dengan kakaknya, Andra Hidayat, lumayan jauh, 7 tahun.
Dengan kehamilan ketiganya itu, konsentrasi kakakku terbagi dua, Dhilla dan calon bayinya. Ia juga menyiapkan mental Dhilla sebagai kakak sejak dini. Sebisa mungkin ia memberikan pengertian bahwa tak lama lagi Dhilla akan memiliki adik bayi.
“Genduk arep duwe adik (Dhilla mau punya adik-Red)” begitu ibunya kerap bicara kepada Dhilla kecil. Namanya juga bayi, Dhilla tidak terlalu tahu konsep adik itu seperti apa. Ibuku juga ikut memberikan pengertian kepada Dhilla.
Namanya juga bayi, Dhilla kecil tidak terlalu mengerti konsep kakak adik. “Tapi sebisa mungkin aku mengenalkan adik barunya,” kata Mba, panggilanku untuk kakakku. Dhilla kadang suka memegangi perut ibunya. Dan saat itulah kakakku bilang,” Ini ada adik Dhilla di dalam perut ibu.”
Memendam Cemburu
Kesibukan mengurus Dhilla dan mempersiapkan kelahiran lumayan menguras energi kakakku. Beruntungnya ada suami, ibu, dan ibu mertua mba serta tetangga sekitar yang memback-up mengasuh Dhilla. “Ini sangat lumayan membantu. Dhilla yang mengurusi orang banyak,” kata kakakku yang sehari-hari waktu itu sibuk mengurusi usahanya, produksi bakso.
Pertengahan Februari 2001 kakakku melahirkan bayi cantik bernama Muthia di sebuah klinik di Kota Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Dhilla di rumah bersama ibuku yang notabene nenek Dilla. Sesampai di rumah, mba mengenalkan Muthia kepada Dhilla.
Reaksi yang muncul saat Dhilla dikenalkan pada adik barunya adalah melengos. “Kelihatan sekali kalau Dhilla marah.,” kata Mba menambahkan, “Apalagi setelah dia melihat ada makhluk mungil serupa dengannya berada dalam pangkuan ibunya.”
Dhilla langsung menangis saat ibunya menyusui Muthia. “Ia seperti tidak rela ASI yang dulu miliknya kini disusu adiknya,” kata Mba. Terlebih, setelah hamil, ASI kakakku tidak keluar. “Kasihan Dilla, ia minum ASI hanya sampai 10 bulan.” Praktis hanya air putih yang Dilla minum sejak ibunya mengandung hingga Muthia lahir.

Dhilla juga seperti melakukan aksi boikot. Beberapa hari setelah adiknya lahir, ia hanya diam. Padahal, Dhilla kecil suka berceloteh. Syukurlah, meski Dhilla kecil protes kepada ibunya, ia tidak sampai memusuhi Muthia. “Dhilla tidak pernah mencubit adiknya atau memukul. Ia malah kerap memegang adiknya. Meski cemburu, ia sayang kepada Muthia,” kata Mba.
Seperti tahu kondisi ibunya yang repot mengurus adiknya, Dhilla akhirnya lebih dekat ke ibuku. Sejak adiknya lahir, Dilla kerap main sendirian. Padahal usianya belum genap 2 tahun. Bahkan, yang mengharukan, ia kerap main sendirian di atas kursi bundar balita beroda sampai tertidur sambil memegang buku dan pensil. Sesekali ia mengeluarkan suara ta ta ta ta sambil memegang pensil dan buku. Jika sudah kelelahan, ia tertidur dengan buku di tangannya.
Jika sedang haus, Dhilla yang masih berada di atas kursi latihan jalan beroda itu akan berujar,“Mik nyu.” Artinya mimik banyu atau minum air putih. “Kadang ia juga bilang yuyus artinya susu (susu formula-Red), namun sangat jarang. Dhilla tidak suka susu formula,” kata Ibu.
Kendati terkesan biasa saja, tidak rewel, ternyata Dhilla memendam cemburu yang mendalam dengan adiknya. Selang sebulan kelahiran Muthia, tepatnya saat usia Dhilla 20 bulan ia jatuh sakit. “Badannya demam karena memendam cemburu,” kata Mba. Akhirnya kakakku merayu Dhilla untuk menyusu lagi. “Eh, setelah diberi ASI sembuh,” ujarnya. Sejak saat itu kakakku kerap menyusui keduanya. “Tapi yang diprioritaskan Muthia.”
Adiktu
Sejak lahir hingga berumur enam bulan Muthia kerap bangun tengah malam hingga pagi. “Kalau bangun Muthia pasti menangis,” kata Mba. Kerewelan Muthia membuat perhatian Mba pada Dhilla berkurang. “Kalau adiknya nangis terus, Dhilla kerap tidur sendiri. Biasanya Bapaknya yang menemani,” kata Mba.
Sering jika rasa cemburu Dhilla muncul, ia minta ibunya menyusuinya berbarengan dengan ibunya. “Kadang kalau aku lagi menyusui Muthia, ia bergelayutan di punggungku, minta ASI juga.” Dhilla akhirnya menyudahi ASI ketika berumur 2,5 tahun.
Dhilla kecil kemudian mengisi hari-harinya dengan bermain pasaran. “Kadang bikin sambal-sambalan dengan mengulek dedaunan sambil bilang tak enthek enthek tak uleg-uleg maksudnya aku nguleg sambel,” kata Ibu tersenyum. “Dhilla anak yang lucu. Kadang kalau lagi main pasaran, ia ditanya tetangga, lagi ngapain Lek. Dhilla menjawab lagi pacangna maksudnya lagi pasaran hehehe,” imbuh Mba.
Begitu selesai mandi, kata Mba, Dhilla akan main ke tetangga dan bilang,”Atu wayuk, atu mangi (Aku ayu, aku wangi) sambil memegangi pipinya yang berbedak.” Biasanya tetangga orang dewasa hanya bilang,”Masak sih nduk. Kok ga ada bau harumnya ya.”
Kerap kali Dhilla juga digoda oleh tetangga sebelah. “Nduk, adik aku ambil ya.” “Jangan, itu adiktu, adik dua (Jangan, itu adikku. Adik Dhilla).” “Ya, meski ia cemburu pada adiknya, ia nggak rela adiknya diambil orang,” kata Mba tertawa.
Sekitar umur 3 tahun Dhilla mulai menempatkan diri sebagai kakak. Ia sering mengajak ngomong adiknya. “Mba Dua. Ini adik Dua (Mba Dhilla. Ini adik Dhilla),” celoteh keponakanku bermata indah itu.

Nyatanya fokus perhatian seisi rumah kepada bayi Muthia begitu membekas dalam hati Dhilla. Ia merasa dinomorduakan. Hingga, saat ia bisa menulis, yang ia tulis di buku adalah setiap orang hanya sayang kepada adik. Tidak ada orang yang sayang kepada Dhilla. “Aku sedih membaca tulisan itu. Tetapi bagaimana lagi. Sebenarnya aku ingin member perhatian yang sama. Tetapi Muthia sangat rewel,” kata Mba.
Tangis Muthia
Hingga usia menjelang TK, Muthia selalu rewel. Ia kerap menangis keras dan menjerit hingga suaranya hampir habis. Saking kerasnya tangisan Muthia, orang se kampung bisa mendengar lengkingannya. Terkadang kalau kelamaan, keponakanku itu menangis hingga batuk dan seperti muntah.
Ada seorang teman kuliahku yang kala itu bermain ke rumahku sempat geleng-geleng kepala melihat tingkah keponakanku yang satu itu. “Dia itu menangis kayak menyanyi saja ya,” komentar temanku. Tangis Muthia seringkali terdengar. Ia menangis tidak mengenal waktu. Bahkan, tidak ada sehari pun yang terlewat tanpa tangisannya.
Bukan hanya teman kuliah yang gumon dengan tingkah Muthia. Keluarga besar dan tetangga pun heran melihat ‘hobby’ keponakanku membuat ‘nyanyian’. Muthia akan menangis kencang jika keinginannya tidak dipenuhi. “Kalau saat ini minta A, ya harus ada A.” jelas Mba.
Meski Muthia rewel, Mba tetap sabar. Imbasnya, perhatian ke Dhilla menyusut. “Dhilla tumbuh besar lebih banyak dengan Ibu,” kata Mba. Maka, yang dirasakan Dhilla adalah ibunya hanya sayang kepada Muthia. “Padahal sama-sama sayang. Hanya karena adiknya rewel luar biasa akhirnya perhatianku lebih fokus pada Muthia.”
Setelah kuamati, perilaku Muthia waktu kecil itu mungkin termasuk temper trantum. Menurut psikolog RSUD Cilacap Reni Kusumowardhani, temper trantum adalah suatu letupan amarah hebat yang terjadi pada anak usia 2 hingga 4 tahun untuk menunjukkan kemandiriannya dengan sikap negatif.
Penyebab temper trantum karena anak merasa frustasi apabila keinginannya tidak segera dipenuhi. “Mereka tidak mengenal kata ‘nanti’. Sehingga sulit untuk menunda atau menunggu pemenuhan atas keinginannya. Oleh karena itu, jika keinginannya tidak terpenuhi, anak balita akan merasa frustasi,” jabar Reni.
Menangis kencang, membuang sesuatu, kata Reni, menjadi sarana balita mengurangi rasa frustasinya. “Karena anak balita belum mampu mengontrol emosinya dan mengungkapkan marahnya secara epat,” jelasnya.
Ada beberapa situasi yang bisa memicu anak marah. Antara lain anak terlalu lelah, bosan, lapar, sakit, keinginannya tidak terpenuhi, tidak tahu apa yang diinginkan. Faktor lain adalah anak tidak mampu melakukan sesuatu sendiri, serta orang sekitar salah mengerti dengan yang ia maksud. Namun, ada juga lho temper trantum anak yang terjadi karena mereka meniru perilaku orang tuanya.
Karena perilaku ini terjadi hingga usia 4 tahun, menjelang 5 tahun Muthia berubah total menjadi anak manis. Ia tidak menunjukkan kerewelannya lagi. Yang membuat orang takjub, selain berperilaku manis, Muthia juga menjadi anak cerdas. Kini kedua keponakanku telah duduk di bangku kelas 4 dan 6 SD. Keduanya baik Dhilla maupun Muthia termasuk siswa berprestasi di sekolahnya. Keponakanku sayang anak impian masa depan. Semoga.
Tips Menangani Anak Temper Trantum
Tindakan preventif:
-Orang tua menjadi contoh yang tepat dalam menyalurkan emosi seperti saat ia marah.
-Tidak terpancing emosi saat anak marah.
-Beri penghargaan atau respon positif saat anak berperilaku baik.
-Siapkan mainan, buku cerita, dll yang menarik anak saat mengajak mereka ke acara yang kemungkinan membuatnya bosan atau lelah.
-Sering mengajak anak berkomunikasi tentang perasaannya.
-Beri perhatian cukup.
-Salurkan anak pada kegiatan positif.
Jika terlanjur temper trantum.
-Beri perhatian sewajarnya, jangan berlebihan
-Pegangi anak yang sedang marah tanpa mencederainya.
-Bersikap tegas, tetapi lembut, dewasa, peduli, dan positif.
-Alihkan perhatian anak dengan aktivitas lain.
-Kalahkan raungan tangis anak dengan suara tegas sehingga ia mendengarkan orang tua.
-Jangan memukul atau berucap kasar.
-Segera bawa anak ke tempat yang tenang, tidak terlalu ramai untuk menenangkannya.
Tips Mengasuh Balita dengan Jarak yang Berdekatan
-Berikan pengertian kepada kakak, kalau sebentar lagi ia akan mempunyai adik.
-Tanamkan pemahaman bahwa adik bukan saingan kakak, tetapi teman bermain yang menyenangkan.
-Tanamkan kebanggaan sebagai seorang kakak.
-Jangan dibedakan antara kakak dan adik. Misalnya segala hal mendahulukan untuk adik.
-Berikan penghargaan dan pujian jika kakak dan adik berperilaku positif.
-Berlaku adil dalam memberikan hukuman. Jangan membela adik karena ia masih kecil.
-Komunikasikan kepada kakak bahwa ayah dan bunda sangat menyayanginya, sama seperti menyayangi adik.
-Ajarkan meminta maaf jika kakak atau adik berbuat salah.
Susan Sutardjo

Rabu, 29 September 2010

Meminimalisir Korban Jiwa dengan Melek Gempa

Gempa tidak membunuh. Yang merenggut nyawa adalah material yang jatuh menimpa manusia. Melek gempa menjadi upaya meminimalisir korban jiwa.
Muthia, salah seorang keponakanku yang duduk di kelas 3 Sekolah Dasar swasta sepulang sekolah bertanya soal gempa kepadaku. “Tante, kenapa kalau terjadi gempa bumi kita mesti sembunyi di kolong meja ya?” “Agar tubuh kita terlindung dari reruntuhan, sayang,” jawabku. Muthia mengangguk. Ia kemudian cerita tanggap gempa yang diajarkan gurunya di sekolah.
Materi tentang gempa dan hal-hal yang harus dilakukan sebagai upaya penyelamatan ketika bencana itu terjadi memang mutlak diajarkan di sekolah. Tidak hanya di sekolah, sebagian perkantoran di Jakarta saat ini juga kerap mengadakan simulasi penyelamatan kala gempa melanda. Sirine akan dibunyikan dan karyawan keluar gedung melalui tangga darurat jika berada di lantai bertingkat.
Sosialisasi tindakan tanggap gempa seharusnya juga gencar dilakukan kepada masyarakat. Entah itu melalui forum PKK, arisan, pengajian, ataupun media televisi. Pemerintah melalui perangkatnya hingga tingkat kelurahan dan RT bisa membuat program sadar gempa.
Mengapa melek gempa urgen bagi kita? Menurut Sciense For a Changing World Indonesia termasuk negara rawan gempa. Hal ini dikarenakan negara kita terletak di cincin api pasifik dengan 452 gunung berapi dan terjepit tiga lempeng yakni Eurasia, Pasifik, Hindia Australia menyebabkan Indonesia salah satu lahan subur gempa. Mengapa demikian? Karena aktivitas tektonik akan aktif terus. Selain itu, rapuhnya batas kontinen juga ikut menyumbang terjadinya gempa. Wajar jika gempa menjadi bencana rutin yang memporak porandakan sebagian daerah di Indonesia.
Desember 2004 gempa dahsyat hampir 9 skala richter mengguncang sebagian Sumatera dengan tsunami mengiringinya. Kerusakan paling parah terjadi di Aceh dengan korban jiwa mencapai 283.106 orang. Disusul gempa di Nias, Kutacane, Aceh Tenggara, dan Bahorok Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, dan Padang Sumatera Barat pada September tahun lalu.
Seringnya gempa menggoyang Sumatera disebabkan gerak patahan di sepanjang pulau dan pergeseran bertemunya lempeng Indo-Asia dan Eurasia. Gempa akan terus mengancam hingga gerakan patahan mencapai titik stabil.
Malangnya, tidak hanya Pulau Sumatera yang rawan gempa. Gempa pernah meratakan sebagian rumah penduduk di Daerah Istimewa Yogyakarta, Tasikmalaya, dll. Menurut Badan Meteorologi Klimatalogi dan Geofisika (BMKG) sebagian besar wilayah Indonesia seperti Pulau Sumatera, Jawa, Maluku, Sulawesi, dan Papua rawan gempa. Penyebabnya tak lain adalah gerakan ketiga lempeng sekitar 3 hingga 4 cm tiap tahun.
Tindakan Saat Gempa
Dengan kondisi geografis rawan gempa maka setiap warga yang bermukim di daerah rawan gempa harus aware. Artinya, tanggap dan tahu apa yang harus dilakukan baik tindakan preventif sebelum gempa dan saat gempa mengguncang daerahnya. Karena yang berbahaya dari bencana gempa adalah material rumah dan benda tajam lain yang rubuh akibat aktivitas gempa.
Sebelum Gempa: Tindakan Preventif
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan warga dan pemerintah sebagai upaya preventif pencegahan korban jiwa.
-Bangunan Tahan Gempa
Masyarakat seyogyanya mendesain rumahnya tahan gempa. Demikian juga pemerintah, harus mendesain gedung perkantoran pemerintah dan mewajibkan perkantoran swasta dan pertokoan bandel jika diguncang gempang. Kalau pun desain rumah atau kantor tidak tahan gempa, sebisa mungkin material rumah tidak berbahaya. Misalnya tidak menggunakan genting beton yang beratnya lumayan untuk atap rumah atau perkantoran. Sebaiknya menggunakan material ringan sebagai atap rumah, perkantoran, dan pertokoan.
-Siapkan Sembako di Bawah Tanah
Saat gempa mengguncang, keberadaan sembako menjadi langka. Kita tidak bisa menggantungkan pada bantuan yang datang. Sebaiknya menyimpan sembako seperti mie instan, beras, dan biskuit di bunker atau bawah tanah dan diganti secara berkala. Mengapa di bawah tanah? Karena kalau disimpan seperti biasa kemungkinan besar sembako tertimbun karena tertimpa material bangunan.
-Simpan Air Mineral Galon
Komponen penting yang paling dibutuhkan saat gempa adalah ketersediaan air bersih. Karena biasanya jaringan listrik mati, bangunan runtuh, dan aktivitas transportasi kota lumpuh, maka air bersih menjadi langka. Simpan beberapa air mineral gallon di bawah tanah.
-Simpan Tenda, Sleeping Bag, Emergency Lamp, Lilin, Korek, dan Senter
Tenda diperlukan saat sebagian besar bangunan runtuh. Demikian juga senter dan emergency lamp atau lampu darurat, dan lilin sebagai alternative penerangan. Sleeping bag digunakan sebagai alas tidur.
-Kenali Lingkungan Rumah dan Kantor
Dengan mengenali lingkungan rumah dan kantor secara baik, kita akan lebih mudah ke mana kita akan keluar menyelamatkan diri dan mencari pertolongan.
-Kenali Lokasi Pintu, Lift, dan Pintu Darurat dengan Baik.
Kita tidak perlu mencari-cari lokasi pintu darurat, lift, jika sudah tahu secara baik lokasinya. Selain itu, saat gempa terjadi orang mudah panik. Sehingga proses keluar dari bangunan akan lebih lama.
-Simpan Dokumen Penting di Tempat Aman
Ijasah, sertifikat, dan surat berharga lain sebisa mungkin ditaruh di satu tempat yang mudah dibawa jika terjadi bencana.
Mencermati Sinyal Alam
Alam sejatinya memberikan sinyal kepada penghuni bumi. Tanda-tanda yang diberikan jika akan terjadi gempa bumi antara lain adanya awan di langit yang memanjang seperti angin tornado atau pohon atau batang dengan posisi berdiri. Selain itu juga adanya medan elektromagnetik seperti lampu menyala redup padahal sedang dimatikan, suara televise tidak jelas, atau tulisan di fax yang kita terima terlihat berantakan. Sinyal alam yang lain adalah banyak hewan yang lari atau menghilang. Sebagian mereka juga mengeluarkan suara.
Tindakan yang Dilakukan Saat Gempa
Nah, apa saja tindakan yang harus dilakukan saat gempa mengguncang. Hal ini sangat tergantung pada posisi di mana kita berada ketika gempa melanda.
-Di Mobil
Kurangi kecepatan, menepi ke bahu jalan. Turun, keluar dari mobil, mencari tanah lapang untuk mengantisipasi dari kemungkinan kebakaran mobil dan tertimpa bangunan. Jangan berada di dekat pom bensin, atau di bawah jembatan penyeberangan.
-Di Pantai
Lari menjauhi pantai sebisa mungkin. Langkah ini dilakukan sebagai antisipasi jika terjadi tsunami.
-Di Pegunungan
Hindari daerah yang kemungkinan terjadi longsong seperti di bawah lereng dll.
-Di Kantor
Keluar bangunan dengan tenang dan tertib melalui tangga darurat. Kepanikan hanya akan membuat tangga penuh dan proses keluar akan terhambat. Jangan gunakan lift atau tangga berjalan untuk menghindari listrik mati saat berada di dalam lift. Jika tidak memungkinkan keluar, bersembunyi di bawah meja untuk melindungi badan dari benda-benda tajam seperti kaca dan tembok yang runtuh.
-Di Pertokoan
Jika suasana panic dan semua orang berebut keluar, sebisa mungkin lindungi kepala dengan tas atau keranjang. Jauhi barang yang bertumpuk dan mudah tergelincir.
-Di Lantai Basement
Jangan panik, berjalan tenang ke arah tembok dengan kepala menunduk dan ditutupi tas hingga mencapai pintu keluar.
-Di Rumah
Matikan kompor jika sedang memasak. Keluar rumah dengan merangkak dan mencari tanah lapang guna menghindari keruntuhan material bangunan. Merangkak diperlukan karena kalau berjalan biasa akan jatuh karena terjadi bangunan. Ini bisa dilakukan jika jarak kita dengan pintu kurang dari 12 meter. Namun, jika jarak kita dengan pintu lebih dari 12 meter, lebih aman sembunyi di bawah meja atau kolong kasur untuk menyelamatkan diri dari bangunan rumah yang roboh.
-Di Jalan
Jauhi bangunan tinggi, papan reklame, tiang listrik, pohon yang kemungkinan akan roboh karena gempa. Waspada juga pada kondisi jalan, apakah merekah atau tidak.
-Di Kereta Api
Tetap tenang, jangan panik sambil melindungi kepala dengan tas menuju pintu keluar. Jauhi tiang kereta. Ada kemungkinan kereta akan berhenti karena aliran listrik mati. Tetap tenang berjalan ke pintu keluar.
-Mencari Informasi
Kepanikan kerap membuat seseorang melakukan tindakan yang salah. Untuk itu dipelrukan informasi yang memberikan panduan langkah penyelamatan.
-Berdoa
Berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa merupakan upaya dan bentuk kepasrahan manusia dalam mendapatkan keselataman dari Sang pemilik alam.

Susan Sutardjo

Selasa, 06 Juli 2010

Biaya Sekolah, Kualitas, dan Gengsi

Investasi terbaik adalah di bidang pendidikan. Seolah menjadi mantera sakti penjamin masa depan buah hati, maka para orang tua pun rela merogeh kocek hingga puluhan juta rupiah hanya demi masuk sebuah TK ternama. Sebut saja temanku itu Ida. Ia menyekolahkan anaknya di sebuah TK ternama di kawasan Cimanggis Depok, Jawa Barat. Pertama kali aku mendengar biaya sekolah anaknya mba Ida, aku hampir melompat jauh. Untung bukan lompat jatuh :p
"Berapa mba, Rp 23 juta. What? Hanya untuk masuk TK?" kataku membelalak.
"Ia mengangguk."
Demi anaknya, mba Ida membobol celengannya. Ga kebayang kan, seberapa besar tuch celengan hingga muat Rp 23 juta. Tapi, yang pasti bentuk celengannya bukan babi. Percayalah teman. "Tabunganku habis San, terkuras untuk biaya TK Hava," kata dia.
"Terus?" selidikku.
"Ya pusing saja. Duitku habis."
"Memangnya tidak ada pilihan lain?" protesku.
"Di situ yang terbaik. Satu guru hanya mengajar lima anak."
"Pantesan," desisku.
Pengalaman shock dengan biaya pendidikan Toto Chan berlanjut ke sekitar rumah. Bak seorang pendata sensus, aku menanyai ibu-ibu muda soal biaya sekolah anak mereka.
"Mba, Hira masuk TK mana?" tanyaku kepada Bunda Hira.
"Ini, masuk TK NF."
"Ooo...kenapa masuk TK itu, kan biayanya mahal," balasku.
"Anaknya yang mau. Karena anak sekitar kompleks sini rata-rata sekolahnya di sana."
Kembali bibirku membulat.
"Berapa biayanya?"
"Rp 8 juta."
Wow. Kataku dalam hati.Fantastis.

Suatu kali aku bertemu dengan seorang ibu yang kelelahan mengatur jadwal hariannya, antar jemput anak. "Sekolah anaknya jauh banget bu?"
"Ya mba, nyari yang terbaik untuk anak," ujarnya tersenyum.
Ibu itu rumahnya di sebuah kawasan real estate di Depok. Kedua anaknya disekolahkan di TK dan SD di Rafless Hills Cibubur. Bisa dibayangkan capeknya menjadi sopir pribadi tiap hari. Alamak...
Bukan hanya tenaga yang terkuras, uang juga mengalir deras.
Untuk menjadi bagian keluarga di TK tersebut, si ibu rela mengeluarkan uang puluhan juta rupiah. Bahkan, biaya bulanannya pun tak kalah fantastis. Jutaan rupiah.
Biaya jutaan hingga puluhan juta rupiah untuk masuk sebuah TK adalah sebuah kemewahan untukku.
Bagi seorang anak manusia yang besar tanpa mengecap pendidikan TK. Dulu sempat iri melihat ijazah TK seorang teman yang dengan bangganya di pajang di lemari kacanya. Kenapa aku tak punya ijazah itu ya? Batinku. Ya jelas lah. Aku tidak sekolah TK. Wajar jika aku terus terbengong ketika mendengar angka puluhan juta rupiah untuk sebuah TK.
Dalam sejarah hidupku, pendidikanku banyak ditopang oleh negara. Sekolah SD di SD inpres. Buku tinggal pinjam ke perpustakaan. Sekolah SMP juga sama, SMPN. Begitu juga SMA. Bahkan hingga di bangku kuliah pun, aku hanya membayar SPP hanya sampai dua semester. Selebihnya di-cover beasiswa dari luar negeri.Maka, lidahku kelu tiap mendengar angka fantastis untuk masuk TK dan SD.
Seorang teman, lulusan Fakultas Ekonomi UI dan suaminya lawyer mengaku tidak tertarik memasukkan anaknya yang baru berusia 3 tahun ke playgroup 'branded'. "Emak-emak sini pada memasukkan anak-anaknya di sekolah-sekolah swasta yang mahal. Kalau anakku enjoy di sekolah biasa, itu lebih baik. Toh ayah ibunya di sekolah biasa saja juga bisa mendapat pendidikan baik," ujarnya.n Ia menginginkan anaknya tumbuh kembang bersama anak-anak lain dari kalangan kurang mampu. "Biar dia tumbuh sewajarnya," kata dia.
Uniknya, meski telah mengeluarkan biaya selangit, para orang tua yang memasukkan sekolah bergengsi, tetap ragu akan masa depan dan kecerdasan anak-anaknya. Seorang ibu berkilah," Masukin TK anak biayanya jutaan, kalah sama biaya kuliah. Kira-kira ada jaminan ga ya, besar nanti dia jadi doktor?" Nah lho....

Selasa, 18 Mei 2010

Gila Manusia Aku Insomnia

Awal 2010 kehidupanku dijejali dengan beragam peristiwa yang membuatku menjadi benar-benar manusia. Baru saja melangkah ke tahun macan, sudah banyak kerikil tajam yang terhampar. Bermula sebuah hal penting di pertengahan 2009. Namun berakhir kekecewaan yang harus dipendam. Meski, masih bersyukur ada kompensasi lain sebagai sebuah hiburan. Yach, anggap saja itu hiburan. Mirip anak kecil yang rewel lalu dikasih permen agar ia terdiam. Lalu balik menangis lagi.
Malangnya, kompensasi hiburan itu pun akhirnya dirampas oleh seorang kawan yang selama ini sudah kuanggap sebagai saudara. Ia merampas mainan kesayanganku yang kuperoleh dengan segenap perjuanganku. Bahkan dengan aliran air mata. Tragedi kelam itu terjadi Maret 2010. Paranoid dan kehausan akan kekuasaan telah mengantarkan teman dekatku menjadi malaikat pencabut nyawa.
Padahal, ia tahu bahwa aku tak minat pada kursi itu. Aku tak tertarik duduk lama di gedung itu. Sebuah bangunan yang menyisakan banyak kenangan muram di memoriku. Gedung yang kerap mengungku karena banyak tanda tanya di sana. Juga beragam topeng manusia yang menyeramkan di belakangnya. Sejak awal aku di sana, sudah tertanam kebencian itu terhadapku. Ah, kadang aku bertanya,”Apa yang mereka iri dariku?”
Kalau ingin kompetensinya sama dengan aku, kenapa tidak mengembangkan diri? Untuk urusan nasib, jika kondisi finansialku lumayan, itu toch sudah kehendak Tuhan. Apakah aku harus miskin demi memuaskan hati mereka? Apakah aku harus menghilangkan embel-embel sarjana agar setara?
Serangan itu kian membrutal kala si penembak adalah seorang teman. Entah alasan apa ia bersekutu dengan gerombolan emak-emak yang sedari dulu memborbardirku dengan fitnah, pembunuhan karakter di depan atasan, dan tudingan miring yang jauh dari kebenaran. Dan semuanya berakhir pada lahirnya regulasi baru. Berkehendak aku diborgol, nyatanya yang tertawan seorang kawan. Tak tega melihat kawan terkena hukuman, majulah aku bak seorang pahlawan kesiangan.
Dua tahun berlalu. Peristiwa serupa terulang lagi. Ya, gara-gara sebuah kursi panas. Aku tahu, bagaimana khawatirnya temanku itu jika kursi itu tiba-tiba menghilang seiring pensiunnya atasan. Bahkan ia menuding sang atasan tidak akan rela melihat kantornya tetap ada kala ia telah purna. Jahat banget pemikirannya.
Aku nyaris muntah melihat ia bermuka manis kepada sang atasan menjelang waktu pensiunnya. Namun, kekhawatiran tidak beroleh kursi tertinggi sepertinya terus menghantui. Maka, dilakukanlah tindakan itu. Mencoret namaku! Itu gila. Dia ingin menghapus satu nama yang dengan terang benderang dikatakan oleh atasan, nama itu berpeluang menggantikannya. Dan peluangnya sama dengan dia.
Seperti ribuan anak panah dan ujung pisau menuju dada. Sesak. Robek. Darah. Luka. Ya, ia menganga. Mengalir air mata. Dan berujung insomnia. Sebuah realita yang hingga kini aku pun tak percaya. Seorang kawan dekat yang berubah manusia gila tega menusukkan belatinya hingga jiwa merana.
Belum juga luka itu mongering, goresan baru muncul. Datangnya kawan lama yang lebih mirip seorang psikopat. Mengusik kedamaian yang ada. Mencoba memancing berharap ikan didapat. Tak tahan dengan ulah ularnya, kusambangi dia. Aku tak rela dia menjadi benalu. Belum juga reda, muncul sengatan dari orang gila. Mengumpat dengan kata-kata jorok yang entah ia beli di terminal mana. Dan berakhir dengan tusukan tetangga demi sebuah tiket masuk ke sebuah geng baru. Tuhan Maha Besar, kuatkan aku menghadapi ini semua menjadi pelajaran hidup berharga. “Meski berusaha selalu membersihkan badan, acapkali kita terkena cipratan comberan. Kendati sudah berusaha menjaga diri dari perkataan dan perbuatan cela, bukan berarti fitnah, tudingan, hinaan, celaan dan ejekan akan lari dari hidup kita. Perbuatan baik bukan sebuah garansi hidup akan selalu landai. Acapkali gelombang besar datang menghantam dari orang sekitar.

Sabtu, 03 April 2010

Tak Seputih Sapi Tak Sebuluk Kerbau

Berulangkali aku menatap wajahku. Tak puas, kini kuraba wajah putihku. Hasil kerja sebuah cream murahan. Meski sudah murah, tetap saja aku menawarnya! Sampai mbak penjaga tokonya geleng-geleng kepala. Nih orang bener2 pelit stasiun gambir. Pikirnya. Eh pelit kayak gambir. Pokoknya pahit! Ini adalah parade manusia kurang pede. KIP. Korban iklan pemutih. Tergiur berwajah putih menawan seumpama Aura Kasih weleh weleh weleh...kalaupun apes paling mirip Syahrini uhuk uhuk...

Yess! Wajahku kinclong. Tapi nggak sampai seperti porselen. Mengkilap. Atau bleaching cream yang mujarab membuat muka seperti hasil setrikaan. Licin. Putihnya masih standar. Buluk nggak, mirip sapi juga jauh. Natural.

Gara-gara wajah bersihku, pujian beruntun menimpaku. Rasanya aku seperti mendapat duren jatuh. Langit seakan cerah. Meski mendung tebal menggantung. Atau aku seperti di limusin, padahal sedang keringetan desak-desakan di gerbong kereta yang pengapnya benar-benar dahsyat. Sumpah, kadang aku juga heran. Bisa-bisanya aku menjalaninya dengan perasaan senang. Padahal saat di dalam gerbong itu, aku tak ubahnya kambing atau sapi yang desak-desakan di truk. Malah masih mendingan mereka. Hewan itu tak perlu desak-desakan. Karena jumlahnya sama. Lah, kalau naik di KRL ekonomi, turun satu, naik sepuluh. Kebayang kan?

Penderitaan itu langsung melayang jika mendengar pujian dari sekitar. Padahal, saat itu rupaku tak karuan. Keringat meleleh, bedak sudah hilang. Bahkan lipstik pun tak tertinggal sisanya. Itulah konsekuensi kalau kamu setia pada barang murahan. Batinku. Sialan.

Mulanya, kaget, akhirnya aku kian terbiasa. "Sekarang kok kinclong sih?" Pasti dulu-dulu melihatku nggak pakai kaca mata. Protesku. "Kamu cantikan sekarang San." Baru sadar ya, dari dulu gue memang mirip Dian Sastro tahu. Kataku dalam hati. Yah, pujian-pujian itu menjadi bonus atas jerih payahku menyapu wajahku.

Tapi yang paling bete, saat semua orang memuji, tidak dengan my bebe. Sadar saja tidak, kalau muka belahan jiwanya putihan sekarang. "Mas, ada yang berubah nggak dengan wajahku?" Eh, dia cuman bengong. "Apanya ya yang beda?" katanya polos dengan muka tak berdosa. Oh, my God! Makanya, waktu melihat iklan produk pemutih yang menampilkan pasangan jadi lebih cinta pada kita, aku rasanya ingin nyamperin sutradaranya. Ingin kusampaikan, kalau laki-laki itu tidak memperhatikan wajah kita putihan atau iteman. Lah, kalau begitu, untuk apa mutihin wajah ya? Ya juga ya. Jawab kata hatiku. Mending hati saja dulu diputihin. Tapi masalahnya hati putih dan hitam nggak kelihatan. Kalau wajah kan kelihatan bo'. Minimal kayak elo, dapat pujian. Batinku. Whatever, sekarang yang pasti wajahku tak seputih sapi tapi juga tak sebuluk kerbau. Emmmeeehhhhh....:p

Jumat, 02 April 2010

Hujan

-Teruntuk my bebe

Arakan hitam memenuhi angkasa
Ah, mendung menggantung di cakrawala

Titik air menyentuh bumi
Sebagian rintiknya membonceng di pucuk daun
Atau menetes pada sebatang dahan

Gerimis kecil menyulap dirinya menjadi hujan
Datang bersama kawan
Sang kilat dan halilintar

Mari kita rayakan
Mari berhujan-hujanan
Tak usah takut pada hujan
Jika ia datang untuk suburnya kehidupan

(Sembari menatap awan menawan di langit Selatan Jakarta)

Macet

Suara knalpot motor pecah
Greng greng greng
Mobil ikut teriak
Din din din

Deretan mobil tak jalan
Maju dua menit
Diam seperempat jam
Wajah wajah gelisah dan muram
Menyebar di bus angkutan
Juga di sedan nan nyaman

Barisan kendaraan diam itu tak di parkiran
Tetapi mengulart di jalan
Terperangkap dalam jerat kemacetan


(Jakarta, di atas sebuah kopaja, betapa gerahnya...."cepetan dong bang!")

Sabtu, 13 Maret 2010

Perempuan-Perempuan Perkasa

Kakinya tertatih meniti jalanan
Matanya tajam memandang ke depan
Meski kepalanya menunduk
Menyamakan dengan posisi badan nan membungkuk

Tumpukan jerami rebah di punggung
Ikatan kayu di punggung menggunung
Juga pakan ternak yang dibiarkan menggantung

Mereka
Para perempuan perkasa
Mengangkut beban
Menjadi hal biasa
Tamparan sinar matahari
Tak membuatnya ngeri
Meski badan legam
Terpapar sinar
Bermandikan peluh
Tak membuatnya mengeluh

"Cuma ini yang bisa kami lakukan," kata mereka
Mengangkut hasil ladang, membawa ranting hutan
Yang penting anak-anak bisa makan

Lasem, 14 Maret 2010

Kamis, 11 Maret 2010

Horeee...Merokok Haram...Yesss!

Mataku berbinar mendengar Muhammadiyah mengeluarkan fatwa rokok haram. Sebenarnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah mengeluarkan fatwa serupa. Tapi entah kenapa, fatwa itu dianggap angin lalu. Para perokok tetap asyik mengisap asap beracun. Tidak hanya di smoking area, tetapi juga di mana-mana.

Uniknya,hidungku sensitif banget terhadap bau rokok. Jadi, tiap pagi nongkrong nungguin mas kereta datang, aku selalu sibuk pindah bangku. Kadang orang-orang heran melihatku nomaden seperti itu. Padahal aku melakukan itu menghindari orang yang merokok.

Apesnya, tuch kaum perokok kok nggak mau bersatu ya, ngumpul gitu di situ bangku. Kalo gitu kan lebih fair. Saling mengisap asap rokok tetangga. Faktanya, mereka menguasai bangku peron stasiun. Hermannnnn!

Pernah, karena tiap bangku sudah dibook perokok mania, akhirnya aku dapat jatah bangku paling ujung. Mana sepi pula. Kalau sudah begitu, pikiranku langsung horor dech. Takut diculikkkkk....(sok imutttt)

Respons pertamaku, kalau tidak bisa pindah tempat, begitu mendapati orang merokok adalah menutup hidung. Kalau ada masker untung, kadang pakai selampe alias sapu tangan. Ketemu tissue sikat. Kalau tidak ada semuanya, ya pakai tangan.

Terus, kalau perokoknya masih muda, aku biasanya ngomong langsung saja, rokoknya menggangguku. Kalau nggak bisa ngomong, aku pura-pura batuk. Ada juga bapak tua yang tidak peka. Aku sudah batuk, tetap saja asap rokoknya ngebul. Mana dia duduk di depanku lagi. Akhirnya, karena aku gemes, aku batuk dan mulutku kudekatin ke telinganya...hahaha....Huk huk huk huk...

Karena blebekan, telinganya pekak, si bapak turun dari angkot. Yesss! aksiku membuahkan hasil hihihi. Bangga, padahal tuch bapak memang mau turun huuuu.

Intinya, begitu mendapati perokok di dekatku, aku langsung beraksi. Siap-siap mendengar teriakan batukku untuk menandingi asap beracun itu. Awassss! huk huk huk!!!!

Jumat, 05 Maret 2010

Macet

Suara knalpot motor pecah
Greng greng greng
Mobil ikut teriak
Din din din

Deretan mobil tak jalan
Maju dua menit
Diam seperempat jam
Wajah-wajah gelisah dan muram
Menyebar di bus angkutan
Juga di sedan nan nyaman

Deretan kendaraan diam itu tak di parkiran
Tapi mengular di jalanan
Terperangkap dalam jerat kemacetan

Macet menjadi santapan sehari-hari
Berada dalam mobil mewah pun serasa di pedati
Bergerak pelan cuma satu inci
Macet membuat hati nyeri

Jakarta, 5 Maret 2010

Kamis, 25 Februari 2010

Salon, Fashion Show, Muludan

Aku sibuk mendandani puluhan anak perempuan. Mereka membawa sarung dan kerudung. Satu persatu teman sebayaku ini aku benahi sarung dan kerudungnya. Satu beres, ganti yang lain. Acapkali mataku menatap jam dinding kayu yang dipajang di gebyok (dinding kayu). “Waduh, wis jam pitu (sudah jam 7 malam),” kataku dalam hati. Aku pun kian tangkas me-make over teman-temanku.
Sekitar 15 menit kemudian urusan wardrobe beres. Rasa puas langsung menyebar berpendar. Aku bak fashion stylist yang sukses merubah penampilan. Bergegas, aku dan pasukan, gadis kecil berusia 12-15 tahun berjalan beriringan ke masjid jami’ kampung, 400 meter dari rumahku. Kadang terdengar suitan dari anak laki-laki yang melihat rombonganku. Setiba di halaman masjid, kami langsung menempati pos strategis, menerima tamu.
Malam ini adalah muludan (peringatan maulid nabi). Masjid di kampungku yang biasanya pelit cahaya, tiba-tiba menjadi terang benderang. Suasana lebih meriah dengan alunan suara Muthoharoh, penyanyi Qasidah Nasida Ria, dari beberapa speaker kotak berukuran segede gaban ditumpuk, diletakkan di pojok depan, mirip penerima tamu…:p
Entah kenapa, tiap melihat speaker hatiku senang. Pasalnya, speaker atau kalau di kampungku namanya salon, identik dengan keramaian. Maka, aku bungah tiap ada suara salon. Tetangga ngawinin anak, menyewa salon. Punya hajat nyunatin anak, pasang salon juga. Pokoknya, kalau mau ramai harus pakai salon atau sound system. Salon ini lebih modern ketimbang toa. Sebelumnya, warga kampung memasang toa di atas batang bambu tiap ewoh (punya hajat nikahan atau khitanan). Era toa di kampungku berakhir sekitar tahun 1988. Ajaibnya, anak-anak akan riang begitu mendengar toa mengalun. Lagunya pun, tak jauh dari Nasida Ria. “Desamu Desaku…Desa yang indah permai….” Bak nyetrum, kepalaku langsung manggut-manggut begitu mendengar lagu kasidah…:p
Tradisi toa berganti begitu ada tetangga yang menyewakan sound system. Namanya Lek Jamiri. Orangnya pendek, wajahnya pas-pasan. Tapi bibirnya selalu tersenyum, memamerkan giginya yang seolah menjadi daya tariknya. Sayangnya, sekarang beliau sudah almarhum. Tiap ada tetangga punya gawe, dengan senang hati Lek Jamiri mendorong speaker kotak dalam gerobak.
Pertama kali melihat kotak hitam bersuara ngebas, kami anak-anak kecil langsung lompat-lompat. Seperti mendapat uang recehan dari orang Cina yang datang ke makam. Di desa kami banyak kuburan Cina. Tiap kaum tionghoa ziarah ke keluarganya, aku dan teman-teman kecilku dengan setia membuntuti mereka. Sampai kami dibagi duwit kacer bergambar burung (Rp 5). Begitu tahu uang logam sudah ada di tangan, kami pun langsung bubar meninggalkan kuburan Cina atau kami sebut bong. Uniknya, mereka bisa membaca pikiran kami yang mengerubung kedatangannya.
Nah, malam ini speaker Lek Jamari yang tertata rapi siap mensukseskan muludan. Maidoh (ceramah) dari Pak Kyai pun bisa dinikmati seluruh warga kampung dan tamu dari desa sebelah. Saat melintas di depan deretan speaker hitam ini, siap-siap saja dada akan berdebar-debar. Bukan seperti orang yang lagi jatuh cinta, tapi lebih mirip kejatuhan beribu ton batu. Rasanya der der der der.
Laiknya remaja pada umumnya, aku dan teman-temanku sesekali lirik sana sini sambil mempersilakan tamu yang datang. Siapa tahu ada yang lumayan. Muludan menjadi momen yang kami tunggu. Karena di sinilah kami remaja putrid bisa show off. Bahkan, ada temanku yang dekat dan nikah gara-gara candaan waktu muludan. Saat teman-temanku cekikikan, aku biasanya hanya mesem. Jaim ceritanya. Herannya, seleraku sangat berbeda dengan teman-teman ABGku ini. Entahlah, di mataku tak ada yang menarik. Padahal, wajahku biasa-biasa saja. Tapi punya criteria cowok idaman di atas rata-rata. Ini namanya tak tahu diri. Atau tepatnya tak pernah berkaca…:p
Sekitar jam 20.00 wib acara dimulai dengan sambutan panitia. Dilanjutkan dengan uraian dari kepala dusun, kepala desa, camat. Walahhh sepertinya lebih panjangan sambutannya daripada ceramahnya. Bagiku, suara mereka seperti angin. Tak kudengar, hanya lewat sesaat. Lelah mendengarkan pidato dari pemuka desa, acara diseling dengan break. Ini adalah waktuku dan teman-temanku. Kami pun unjuk kebolehan. Di sini kami tidak menyanyi kasidah, berpuisi, atau menjadi saritilawah. Tentu tidak. Kami bergerak lincah di antara pengunjung muludan, sementara tangan kami sigap membagi bentel (nasi dibungkus daun pisang dengan lauk seadanya) yang ditaruh dalam rantangan bambu. Saat inilah kami seperti bintang yang bersinar. Mata pengunjung tak lepas mengarah ke kami. Bukan terpana pada paras kami, tapi tertuju pada bentel yang kami bawa.
Acara bagi-bagi bentel yang berlangsung 20 menit, biasanya berlangsung heboh. Acapkali kami harus sedikit tarik urat kalau ada ibu-ibu yang minta jatah lebih dari satu. Kejadian ini sering terjadi. Akibatnya, tidak semua pengunjung kebagian bentel. Kasihan kan. Usai membagi bungkusan nasi, kami kembali ke posko makanan. Biasanya di sana berkumpul remaja putra dan putri. Sesekali candaan keluar yang disambut tawa lepas. Saat seperti inilah aku memilih menyelinap kabur keluar. “Mendingan mendengarkan maidoh dari mbah kyai,” kataku dalam hati.
Aku kembali ke tempat jamaah perempuan yang duduk lesehan di plastik terpal. Sembari selonjor, aku menyimak uraian dari mbah kyai. Sesekali kami sholawatan bareng mbah kyai. Sejam kemudian, sekitar jam 22.00 wib acara usai. Kami pun berduyun-duyun keluar dari kompleks masjid menuju rumah masing-masing. Saat berjalan pulang, aku menantikan muludan tahun depan. Membayangkan akan memakai sarung dan kerudung warna apa. Ah, peringatan maulud nabi yang seharusnya untuk mengingat sejarah Rasulullah, dalam otakku telah berganti menjadi ajang fashion show. Duh, ampuni aku kanjeng nabi. Sungguh bukan maksud hati untuk melupakanmu. Tapi bagaimana lagi, di kampungku jarang ada pesta. Satu-satunya keramaian yang ada ya pas maulid nabi…Speaker masjid masih mengalun…Sholatullah Salamullah Ala thoha Rosulillah….
Cerita masa lalu.

Senin, 22 Februari 2010

Romansa SMA

Mencoba menggulung waktu
Menyentuh kembali keceriaan lugu
Mengusap persahabatan dulu

Ya ya ya aku teringat semua
Berkejaran pelajaran,
Bercumbu dengan katalisator sang guru Hepi
Atau asyik menyimak Pak Guru Cos Teta dalam pelajaran Fisika

Bermain dengan alam
Menyatu dalam jilatan air laut
Atau meneguk segarnya air kelapa muda
Sambil bercanda dengan jagung yang menyembul di tegalan

Aha ha ha, tawaku pecah membuncah
Teringat kawaanan berulah
Membuka dan menemukan benda bertuah
Dalam tas nyentrik teman sebelah
(John Pari, Bastio....)

We are the big fam...my friends

Jakarta, 21 Februari 2010

Sabtu, 02 Januari 2010

Resolusiku 2010

Pergantian tahun selalu menyimpan harapan baru bagi tiap insan. Salah satunya aku. Menyambut tahun baru 2010, beragam rencana pun telah kususun. Mulai yang berhubungan dengan karir, keuangan, kesehatan, ibadah dan ehem...soal cinta. Bagiku, resolusi itu menjadi guideline langkah kita selama setahun. Langkah-langkahku akan seperti di tuntun di atas rel resolusiku.
Namun, begitu, tidak semua harapan itu terwujud. Ada satu dua harapan yang masih terus terbungkus kabut. Tentunya, asa yang masih di awan itu diharapkan turun ke bumi bersama hujan. Dan menjadi prasasti raihan sebuah keberhasilan.
Target 2010:
Pribadi
Mencoba Bidang Baru-Umroh-Beli property lagi-Kursus Fashion Design-Online shop-Join eksibisi-15 Cerpen-3 Novel-Sewa Kios
Social activity:
-Bikin buku untuk Yulia-Mengajar murid Rumah Kehidupan-Donasi mukena-Bantuan buku ke MI Al Hamidiyah-Bantuan operasional transport MTS Sluke-Bantuan modal kerja bagi dhuafa-Bantuan buku ke PRT-Bantuan ke Yayasan.
I hope my aim will be come true………..

Selasa, 08 September 2009

Lagu-lagu



Suatu hari, Dicky, anak tetanggaku kala itu berumur 3 tahun, ditanya oleh sang ibu. ”Mas Dicky bisa nyanyi lagu nggak,” tanya bunda. ”Bisa bu,” jawab Dicky. ”Lagu apa?” ”Ya lagu,” kata Dicky polos. ”Ya, judul lagunya apa mas?” tanya ibunya lagi. ”Lagu-lagu.......”

Senin, 07 September 2009

Pola Makan Sehat Selama Puasa


1. Membatasi makanan berkadar lemak tinggi, terlalu pedas, makanan kalengan,
daging olahan, dll.
2. Batasi makanan gorengan, bersantan, dan mengandung gula.
3. Saat berbuka, makan makanan yang mudah dicerna terlebih dahulu seperti buah-
buahan. Setelah sholat maghrib, baru memakan makanan berat. Sehingga tugas
organ pencernaan tidak terlalu berat.
4. Berbuka dengan makanan berkadar gula cukup, karena tubuh kehilangan energi
dan kadar gula turun. Sehingga diperlukan makanan yang mampu memberikan
kadar energi cukup yang bisa diperoleh dari makanan berkadar gula cukup
seperti kurma.
5. Perbanyak asupan serat seperti sayuran saat berbuka dan sahur.
6. Jangan makan terlalu kenyang saat berbuka puasa.
7. Makan dengan gizi seimbang.
8. Makan sahur tidak terlalu kenyang, seperti kebutuhan sarapan. Karena sahur
merupakan sarapan yang dimajukan waktunya.
9. Minum air cukup. Sebagai patokan saat kita berpuasa, tubuh kita sebaiknya
berisi 1/3 air, 1/3 makanan, 1/3 udara.
10. Makan dan minum dari bahan fresh, bukan makanan yang dipanaskan atau
dihangatkan selama berhari-hari.
11. Baca doa sebelum makan dan minum. Sehingga makanan dan minuman yang masuk ke
dalam tubuh bermanfaat bagi raga kita.

Minggu, 06 September 2009

Rumahku di Sebelahnya Atar Bu Guru


Hari itu guru TK Lia(4 thn), anak tetanggaku menanyakan alamat rumah anak didiknya. Setiap anak menjawab lokasi rumahnya. Tibalah giliran Lia. "Lia, rumahmu ada di mana?" tanya Bu Guru. Dengan wajah polos dan yakin, Lia pun menjawab," di sebelah rumahnya Atar." Bu Guru pun bingung, karena dia tidak tahu rumahnya Atar yang juga merupakan muridnya dan sekelas dengan Lia. Akhirnya, Bu Guru menanyakan ke Atar. "Atar, rumahmu di mana?" "Di sebelah rumahnya Lia Bu Guru...." Hahaha....namanya juga anak-anak....

Jumat, 04 September 2009

Wanita Selingkuh?

Kalau jaman dulu selingkuh lebih dimonopoli kaum pria, kini jaman sudah berganti. Belakangan ini selingkuh malah marak dilakukan kaum wanita. Contoh yang paling nyata bisa kita lihat pada rumah tangga artis. Jika dulu kebanyakan yang berselingkuh adalah para suami, kini malah para istri yang berselingkuh.
Mengapa perempuan berselingkuh? Padahal, ia telah memiliki anak-anak yang lucu dan suami tampan nan mapan?
Tentu jawabannya sangat beragam. Perempuan masa kini memiliki banyak keinginan dan tuntutan. Hal ini pun sangat jauh berbeda dengan jaman ibu dan nenek kita dahulu. Perempuan jaman dulu merasa cukup ketika sudah punya suami yang bertanggungjawab secara ekonomi dan memiliki anak-anak. Namun, dua faktor itu tidak cukup bagi perempuan sekarang.
-Pengertian bertanggungjawab secara ekonomi pun sangat relatif, tidak sama untuk tiap perempuan. Mungkin saja, buat wanita A dengan penghasilan sekian cukup. Tapi, bisa jadi untuk wanita B jumlah segitu sangat kurang.
-Bagaimana dengan kehadiran anak-anak? Sebagian kalangan menganggap anak-anak bisa menjadi social control atau pagar agar seorang ibu tidak melenceng dari koridor pernikahan? Ternyata, anak-anak pun tidak cukup kuat untuk menahan perselingkuhan seorang istri.
-Komitmen pernikahan. Keteguhan untuk mempertahankan pernikahan belakangan ini kian menipis pada psangan suami istri. Baik suami maupun istri punya peranan besar akan komitmen keutuhan sebuah rumah tangga. Bukan cuma dari pihak istri atau suami saja.
-Tidak nyambung dalam berkomunikasi. Seringkali, hambatan dalam berkomunikasi suami istri dijadikan dalil pembenaran untuk melakukan perselingkuhan di luar. Sehingga, ketidakpuasan di dalam rumah itupun dibawa keluar dengan mencari pintu hati laki-laki lain yang siap berbagi. Kondisi ini sangat dimungkinkan, karena saat ini pergaulan wanita sangat luas, baik di kantor maupun dalam jejaring sosial. Sehingga, kesempatan itu pun terbuka lebar.
-Mencari kepuasan psikologis. Karena sudah hidup bersama dan disibukkan dengan rutinitas, sering seorang suami kurang memperhatikan keberadaan istrinya. Biasanya, kondisi ini juga diikuti oleh minimnya pujian buat istrinya. Sementara sang istri, sebagai perempuan tetap membutuhkan pujian. Selain pujian, perempuan juga membutuhkan teman yang bersedia menjadi pendengar dan memberi solusi untuknya. Ketika suami tidak lagi bisa menjadi pendengar yang baik, sementara kebutuhan istri akan itu sangat tinggi, maka sang istri pun mencari di luar.
-Bermasalah dalam hubungan suami istri. Keharmonisan hubungan suami istri pun tidak boleh disepelekan. Sehingga, ketika suami mengalami gangguan keperkasaan, sudah seharusnya berobat ke ahlinya.
-Suami pemarah dan ringan tangan. Kekecewaan terhadap sikap suami yang pemarah dan ringan tangan mendorong istri lari dari pernikahannya dan berusaha mencari pengganti di luar.
-Sering kongkow-kongkow tidak jelas dengan lawan jenis. Macetnya ruas jalan di ibukota sering menjadi alasan para perempuan pekerja untuk menunda kepulangannya dan menggantinya dengan ngumpul bareng teman kantornya. Pertemuan di luar jam kantor, terlebih dalam suasana santai dan menjelang malam,tentu memberikan nuansa romantis. Sehingga, hubungan yang tadinya hanya sekedar teman kantor bisa berubah ke arah TTM. Pasalnya, setan bisa membisiki manusia kapan saja. Hubungan ini akan tambah subur kala sang istri sedang bermasalah dengan suami.
-Jauh dari Tuhan. Hati yang jauh dari Sang Khalik akan mudah tergoda untuk melakukan hal yang dilarang agama. Sehingga, melanggar dan menabrak norma agama pun dianggap biasa.
-Jarang mengingat kematian. Dengan mengingat mati, seorang istri akan berusaha menjadi pribadi terhormat, ibu yang dibanggakan anak-anaknya. Bukan sebaliknya, malah anak-anaknya yang membuka aib perselingkuhannya.
-Kurang bersyukur. Jika seorang istri mau mensyukuri atas anugerah yang telah diberikan Sang Pencipta untuknya, niscaya ia merasa cukup dengan suaminya dan tidak perlu tambahan suami orang lain atau laki-laki lain. Wanita baik tidak akan curhat, menarik hati, dan menggoda suami orang.

Mengatasi Stres

Tinggal di kota besar yang sarat kemacetan memicu stres setiap saat. Belum lagi beban pekerjaan, tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga, ibu, dan anggota masyarakat. Tuntutan sebagai makhluk sosial pun kadang menambah tekanan hidup. Nah, bagaimana agar stres yang ada bisa kita kendalikan atau atasi?
-Cari penyebab stres. Jika penyebabnya jalan macet, bukannya hal itu memang kita alami tiap hari. So, jangan terlalu dipikirkan.
-Susun strategi melawan stres. Jika penyebabnya jalanan macet, kita bisa melawannya dengan alternatif kendaraan lain. Tadinya ke kantor memakai bus, mengendarai mobil, atau motor, bisa beralih ke KRL AC Expres.
-Kenali stres yang mudah dan sulit diatasi. Misalnya stres karena jalanan macet termasuk stres ringan. Pasalnya, kita tidak sendirian, orang lain pun mengalaminya. Dan tiap hari kita memang harus bekerja dan menggunakan jalanan. Jadi, berdamailah dengan tipe stres ini. Tipe stres lain adalah omongan kasar atau tidak enak dari teman atau tetangga yang memang terkenal tajam. Anggap saja kita sedang apes atau sial.
-Beri penghargaan diri sendiri. Ada kalanya stres ditimbulkan karena ketiadaan penghargaan dari pasangan, atasan, atau rekan kerja. Jika itu terjadi, anda bisa menghadiahi diri sendiri. Anda bisa memanjakan diri di salon, beli buku, nonton film, dll.
-Selesaikan masalah dengan kepala dingin. Jika pemicu stres disebabkan orang lain, Anda jangan terbawa emosi. Selesaikan masalah kala anda sudah tidak emosi lagi.
-Membagi pekerjaan kepada orang lain. Jika anda stres karena beban kerja terlalu berat, anda bisa membaginya kepada rekan kerja lain. Tentu dibutuhkan pendekatan yang baik agar rekan kita mau membantu pekerjaan kita.
-Seimbang dalam hidup. Jangan terlalu memforsir diri hanya untuk pekerjaan. Seimbangkanlah dengan waktu berkumpul keluarga, sahabat, lingkungan sosial. Selain itu, seimbangkan juga antara pekerjaan dengan waktu beribadah.
-Terima apa adanya. Seringkali stres disebabkan dari pikiran kita. Mungkin target hidup kita belum tercapai, tujuan keuangan belum juga tercapai, target karir belum makin menjauh, merasa tidak mempunyai prestasi. Saatnya anda menerima apa adanya kondisi saat ini. Ini bukan berarti pasrah, tapi lebih menhargai proses yang sedang berjalan.
-Rekreasi. Setelah otak dan fisik kita diforsir untuk belajar dan bekerja, saatnya mengambil cuti untuk outing. Liburan tidak harus keluar kota. Yang penting anda keluar dari rutinitas.
-Salurkan hobi. Mengerjakan hobi bisa membuat kita rileks. Tentunya kita juga tidak boleh kebablasan dalam menyalurkan hobi, terutama jika hobi kita harus mengeluarkan banyak uang. Bisa-bisa, setelah senang, kita kembali stres karena uang kita terkuras untuk membiayai hobi mahal kita.
-Berhenti mencari kesalahan. Aktivitas mencari kesalahan hanya membuat dada kita sesak, ingin marah. Cobalah berhenti mencari kesalahan diri dan orang lain.
-Bebaskan perasaan dengan tertawa, menangis, atau teriak sekencang-kencangnya untuk melepaskan beban atau masalah yang tengah melilit kita.
-Ganti sudut pandang. Jika stres disebabkan jalanan macet, anda bisa merubah mindset berpikir, "Ya memang macet, tapi aku tidak sendiri. Yang lain juga mengalaminya. Kalau yang lain bisa, kenapa aku tidak"
-Mendekatkan diri pada Tuhan. Dengan lebih dekat kepada Tuhan, hati akan tenang. Karena Tuhan yang memberi ketenangan sekaligus memberi solusi atas permasalahan yang kita hadapi.

Kamis, 03 September 2009

Berdamai dengan Depresi


Stres dan depresi kerap datang menyerang kala perempuan bermasalah dalam kehidupannya. Penyebabnya beragam. Seperti kehilangan orang tua yang sangat dekat ikatan emosionalnya, kehilangan anak, suami,perceraian, suami selingkuh, kehilangan pekerjaan, suami di-PHK, anak sakit kronis, suami sakit kronis, dll. Untuk wanita, faktor penyebab depresi lebih disebabkan oleh faktor psikologis, karena aspek perasaan pada perempuan lebih berperan.Berbeda dengan pria yang lebih banyak disebabkan aspek fisik.
Gejala depresi antara lain sering sedih dan murung, tatapan kosong, sering menangis, menyendiri, gelisah, lelah, tidak bertenaga, dan tidak bisa konsentrasi, merasa tidak berguna, tidak berharga, kehilangan motivasi, kehilangan orientasi hidup, bahkan ingin bunuh diri.
Keluhan lain, orang yang sedang depresi biasanya mengalami insomnia, gangguan pola makan, sakit kepala, keluhan pada lambung, saluran nafas, dan pernafasan, serta rasa nyeri yang tidak jelas. Keluhan ini biasanya berlangsung sekitar dua minggu. Jika keluhan lebih dari dua minggu, maka harus dicari solusi penyembuhannya.
Langkah yang bisa dilakukan kala menderita depresi antara lain:
-Sharing ke teman yang bisa diajak bicara dan kita percaya. Dengan cerita permasalahan kita kepada suami atau sahabat, maka sebagian beban kita akan berkurang. Karena, orang yang depresi perlu teman bicara. Selain itu, dari kegiatan sharing itu kita akan mendapat masukan dari orang yang kita percaya.
-Menulis permasalahan pribadi di buku harian. Ini merupakan terapi pelepasan masalah, jika kita enggan bercerita ke orang lain.
-Konsultasi ke psikolog atau psikiater. Jika cerita ke teman atau orang terdekat sudah dilakukan, tapi tidak ada perubahan, ada baiknya pergi ke psikolog yang lebih tahu permasalahan kejiwaan manusia. Diharapkan dari konseling ini akan diperoleh solusi terbaik.
-Melakukan zikir, menarik nafas dalam, meditasi, atau yoga setiap pagi. Dengan aktivitas ini diharapkan akan ada ketenangan batin.
-Berkomunikasi atau berbicara kepada Tuhan, mengadukan permasalahan yang dihadapi.
-Lebih bersyukur dalam hidup. Artinya, mau menerima kondisi sekarang dan tidak memaksakan keinginan atau mengandaikan kebahagian di luar kehidupan kita saat ini.
-Perbanyak jalan kaki. Karena, depresi berhubungan dengan zat kimiawi dalam otak. Dengan memperbanyak jalan kaki, maka tubuh kita banyak melepas hormon endhorpin (hormon pemicu senang).